RSS Feed

Tekanan

Posted on

Tekanan hidup.

Hari itu sepertinya merupakan hari yang sangat mengesalkan. Yah, banyak hal yang memenuhi pikiranku. Masalahnya cukup penting buatku dalam arti, persoalan itu menempati posisi prioritas yang cukup tinggi. Akibatnya seharian penuh aku tak dapat berkonsentrasi dengan apa yang seharusnya aku lakukan/kerjakan. Apa yang harus kulakukan itupun menumpuk, menambah bebanku.

Aku tidak ingin menumpahkan segala kekesalan di hatiku karena masalah itu. Pertama, karena menurutku itu sebenarnya bukan masalah yang besar. Kedua, apakah gunanya kalau aku banyak bicara dan membahas masalah seperti itu? Yang aku ingin bagikan adalah pelajaran yang aku dapat setelah masalah itu teratasi dan tertangani. (Aku bisa berpikir secara jernih ketika semua itu telah berlalu.)

Menurutku, masalah itu membuat kita menjadi kuat dan terlatih dalam menjalani hidup ini. Saat aku merenungkan ini, nasehat orang tuaku selalu terngiang di kepalaku. Ayahku berkata, sejak manusia itu lahir, manusia harus bekerja keras. Tidak ada sesuatu hal yang dengan mudah di dapat. Semua itu perlu usaha dan kerja keras dan ketekunan. Ibuku juga pernah menuliskan surat ketika aku sedang menghadapi masalah, ia berkata bahwa hidup itu seperti sebuah permainan dimana masalah dan tantangan hidup itu akan memberikan poin-poin tertentu. Jadi, setiap kali, kita harus memberikan yang terbaik agar kita mendapatkan poin yang maksimal. Dan kalaupun kita gagal atau masalah itu tidak berakhir dengan baik, kita masih mendapatkan poin juga. Poin -poin itu akan terakumulasi dan bisa digunakan di tantangan tahap selanjutnya.

(aku hanya membagikan nasehat orang tuaku saja ya? *bodoh*)

Kali ini, aku bisa berkata bahwa masalahku ini sepele. Seandainya aku bisa lebih tertib dan teratur dalam berbagai aspek dalam hidupku, maka masalah ini sebetulnya dan seharusnya tidak perlu terjadi. Tetapi karena aku menyepelekan hal-hal kecil dalam kedisiplinan, maka masalah ini menimpaku sebagai didikan Tuhan untuk mendisiplinkanku.

Sekarang (ketika aku menuliskan ini) ada pertanyaan muncul di benakku, mengapa ketika aku merasakan sakit karena sesuatu (baik yang memang karena disakiti orang lain atau maupun karena memang seharusnya aku dihardik karena kesalahanku sendiri) aku justru meningkatkan kekebalan. Aku butuh dosis yang lebih parah untuk membuatku “ngeh” (sadar) kalau itu salah, kalau itu perlu diperbaiki. Tidak enak memang. Tapi aku merasa aku dilahirkan seperti ini. Aku tidak bisa mengubah kecenderunganku untuk mengembangkan kekebalan terhadap teguran atau didikan atau hal-hal yang menyakitkan. Aku akan merasa sakit sebentar lalu rasa sakit di hati itu akan menghilang cepat seiring berjalannya waktu (yang cepat).

Menurutmu, apakah aku aneh?

(Jawab dengan jujur, tak perlu basa basi itu, tak perlu munafik itu! Bukankah kau sudah membaca, kalau aku bisa mengembangkan kekebalan terhadap bahasa yang menyakitkan nan frontal!? Aku suka kejujuran dan keterbukaan.)

Advertisements

About da991s

See ABOUT ME page! :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: